Event Planner

Pembagian Kelompok Team Building agar Lintas Divisi Benar-Benar Bertemu

RinduTenang

Penulis

62 Tayangan
7 Menit Membaca

Panitia sudah memilih venue, memesan konsumsi, dan menyusun games. Saat peserta datang, pembagian kelompok dilakukan dengan kalimat sederhana: “Silakan cari teman, satu kelompok delapan orang.” Hasilnya bisa ditebak. Orang gudang berkumpul dengan orang gudang, HR duduk bersama HR, sementara karyawan baru menunggu diajak masuk.

Acara itu tetap bisa menyenangkan. Namun, kalau tujuannya mempertemukan orang yang selama ini hanya berhubungan lewat pesan kerja, panitia melewatkan kesempatan penting sebelum permainan pertama dimulai.

Pembagian kelompok team building bukan sekadar meratakan jumlah peserta. Ia membantu menentukan siapa yang mendapat kesempatan berbicara, siapa yang mengenal fungsi kerja lain, dan apakah peserta berinteraksi di luar lingkaran sehari-hari. Berikut cara menyusunnya tanpa membuat administrasi panitia terlalu rumit.

Tentukan dulu: campuran untuk tujuan apa?

Kelompok campuran tidak otomatis lebih baik untuk semua acara. Jika tujuan kegiatan adalah memperbaiki koordinasi dalam satu regu produksi, mempertahankan regu asli justru bisa masuk akal. Kalau tujuannya mengenalkan karyawan dari cabang berbeda, kelompok sebaiknya tidak mengikuti struktur cabang.

Tuliskan satu kalimat sebelum membuka spreadsheet:

Peserta perlu mengenal kendala kerja fungsi lain, lalu mencoba menyelesaikan tugas bersama tanpa bergantung pada atasan masing-masing.

Dari kalimat itu, aturan pembagian menjadi jelas: campurkan fungsi kerja, hindari kelompok yang seluruhnya berada dalam satu rantai komando, dan sediakan rotasi peran.

Jangan berharap pembagian kelompok menyelesaikan konflik personal atau masalah organisasi yang berat. Gathering bukan pengganti penanganan keluhan, mediasi, atau perbaikan proses kerja. Bila ada konflik yang masih aktif, HR perlu menentukan penanganannya secara terpisah; jangan menjadikan games sebagai kejutan untuk mempertemukan pihak yang berselisih.

Gunakan data minimum, bukan profil pribadi lengkap

Untuk membuat kelompok, panitia biasanya cukup membutuhkan:

  • nama atau nomor peserta;
  • divisi atau fungsi kerja;
  • lokasi kerja atau shift, jika relevan dengan tujuan;
  • konfirmasi kehadiran;
  • status panitia yang bertugas selama sesi.

Tidak perlu menambahkan penilaian kepribadian, skor kinerja, atau catatan masalah pribadi. Label seperti “pendiam”, “sulit bergaul”, dan “kurang kooperatif” berpotensi membentuk prasangka fasilitator sebelum peserta mulai bermain.

Kebutuhan aksesibilitas dapat ditangani melalui komunikasi terbatas dengan petugas yang memang membutuhkannya. Daftar kelompok yang ditempel di lokasi tidak perlu memuat kondisi kesehatan atau alasan seseorang memilih aktivitas alternatif. Atur pilihan aktivitasnya, bukan membuka informasi pribadinya.

Pisahkan juga daftar peserta dari daftar kru. Karyawan yang menjadi penanggung jawab registrasi atau konsumsi mungkin tidak dapat mengikuti seluruh sesi. Jika tetap dihitung sebagai anggota penuh, kelompoknya akan kekurangan orang saat tugas berlangsung.

Susun pembagian dengan tiga putaran sederhana

Tidak harus memakai aplikasi khusus. Spreadsheet biasa cukup untuk acara dengan daftar peserta yang masih bisa dikelola panitia. Tetapkan jumlah kelompok berdasarkan kapasitas aktivitas, ruang, dan kemampuan fasilitator memandu; bukan hanya angka yang enak dibagi.

Putaran pertama: sebarkan divisi terbesar

Urutkan peserta menurut divisi. Sebarkan anggota divisi terbesar ke kelompok A, B, C, dan seterusnya secara bergiliran. Lanjutkan divisi berikutnya, lalu periksa kembali hasilnya.

Ini mencegah seluruh anggota satu divisi menumpuk pada kelompok terakhir. Pengacakan murni memang mudah, tetapi tidak menjamin komposisi campuran ketika satu divisi jauh lebih besar daripada yang lain.

Putaran kedua: periksa hubungan jabatan

Lihat apakah sebuah kelompok berisi satu atasan dengan hampir seluruh bawahan langsungnya. Komposisi tersebut mungkin membuat peserta tetap mengikuti pola rapat kantor: atasan memberi arahan, yang lain mengangguk.

Bila tujuan acara mengajak orang mencoba peran baru, tukar beberapa anggota antar kelompok. Tidak perlu melarang semua atasan berada bersama bawahannya. Yang dihindari adalah dominasi satu struktur kerja dalam kegiatan yang sengaja dirancang lintas fungsi.

Putaran ketiga: rapikan ukuran dan kehadiran

Periksa kapasitas setiap kelompok, lalu cek peserta yang belum mengonfirmasi kehadiran. Jangan mengandalkan mereka untuk memenuhi kebutuhan minimum suatu permainan. Tandai kelompok yang perlu diperiksa ulang saat registrasi, tanpa membuat daftar cadangan terlalu rumit.

Terakhir, minta satu anggota panitia lain meninjau hasilnya. Ia mungkin melihat hal praktis yang luput: dua orang ternyata harus meninggalkan sesi untuk bertugas, atau beberapa peserta baru belum mengenal siapa pun di kelompoknya.

Contoh pembagian: jumlah divisi tidak harus seimbang

Misalkan ada 24 peserta: 12 dari operasional, enam dari administrasi, dan enam dari penjualan. Fasilitator menyiapkan empat kelompok berisi enam orang. Ini contoh simulasi, bukan standar wajib ukuran kelompok.

Kelompok Operasional Administrasi Penjualan Jumlah
A 3 2 1 6
B 3 1 2 6
C 3 2 1 6
D 3 1 2 6

Semua kelompok memiliki tiga fungsi, meskipun jumlah tiap fungsi tidak sama. Itu sudah cukup untuk tujuan saling mengenal. Tidak perlu memaksakan angka identik jika komposisi peserta memang berbeda.

Langkah berikutnya adalah menempatkan nama, bukan berhenti pada tabel angka. Periksa agar peserta dari operasional dalam satu kelompok tidak semuanya berasal dari regu yang sama apabila tujuan acara juga mempertemukan antarregu.

Untuk perusahaan di Medan dengan peserta kantor dan lapangan, gunakan fungsi pekerjaan sebagai dasar yang lebih berguna daripada sekadar lokasi tempat tinggal. Pembagian berdasarkan kecamatan mungkin mudah, tetapi belum tentu membantu tujuan kerja acara.

Sampaikan aturan sebelum peserta mencari kelompok sendiri

Masukkan nomor atau warna kelompok pada kartu registrasi. Tempel petunjuk lokasi berkumpul yang mudah dibaca. Jangan hanya mengandalkan warna; sertakan huruf atau angka agar penanda tetap jelas bagi peserta yang kesulitan membedakan warna.

Pemandu dapat menjelaskan alasannya dengan bahasa singkat:

Hari ini kelompok dicampur agar kita bertemu rekan yang jarang bekerja bersama. Ikuti kelompok pada kartu dulu. Jika ada kebutuhan penyesuaian, hubungi meja panitia.

Hindari menjelaskan bahwa seseorang dipindahkan karena “terlalu dominan” atau “harus belajar bergaul”. Peserta tidak perlu merasa sedang dikoreksi di depan umum.

Sediakan waktu berkenalan sebelum tugas dimulai. Minta setiap orang menyebutkan nama, fungsi pekerjaan, dan satu hal yang biasanya dibutuhkan dari divisi lain. Pertanyaan konkret seperti itu membantu membuka percakapan tanpa memaksa peserta menceritakan masalah pribadi.

Campurkan orang, rotasikan perannya juga

Kelompok sudah campuran, tetapi semua keputusan masih dipegang orang yang sama? Berarti pembagian baru selesai setengah jalan.

Buat peran sesuai aktivitas: pembaca instruksi, penjaga waktu, pencatat, penguji ide, atau penyampai hasil. Untuk permainan berikutnya, ganti pemegang peran. Pastikan perannya benar-benar berguna, bukan gelar tambahan yang tidak punya pekerjaan.

Jangan otomatis menunjuk pegawai paling senior sebagai ketua. Fasilitator bisa meminta kelompok memilih koordinator untuk satu putaran saja, lalu memberikan kesempatan kepada anggota lain. Peserta boleh menolak peran tertentu tanpa dijadikan bahan lelucon.

Saat diskusi, minta setiap anggota memberi satu masukan sebelum kelompok mengambil keputusan. Ini bukan jaminan semua orang akan nyaman berbicara, tetapi membantu mencegah sesi berubah menjadi monolog. Fasilitator tetap perlu memperhatikan apakah ada peserta yang selalu dipotong atau tidak diberi kesempatan mencoba.

Siapkan aturan untuk peserta susulan dan ketidakhadiran

Daftar rapi sering berubah pada hari acara. Ada peserta datang terlambat, batal hadir, atau harus kembali ke tempat kerja. Sepakati penanganannya sebelum registrasi dibuka:

  1. Satu petugas memegang daftar kelompok terbaru.
  2. Peserta susulan diarahkan ke kelompok yang masih memiliki kapasitas dan cocok dengan komposisinya.
  3. Perubahan dicatat agar fasilitator tidak memakai daftar lama.
  4. Penyesuaian dilakukan di antara aktivitas, bukan ketika instruksi penting sedang diberikan.

Kalau sebuah kelompok kekurangan peserta, periksa dulu apakah aktivitas dapat disesuaikan. Jangan buru-buru membongkar seluruh pembagian. Pemindahan kecil biasanya lebih mudah dijelaskan daripada pengacakan ulang setelah peserta mulai saling mengenal.

Pisahkan persoalan kehadiran dari penilaian individu. Peserta yang terlambat karena tugas operasional tidak perlu mendapat “hukuman” berupa peran yang mempermalukan. Panitia cukup mencatat perubahan dan membantu orang tersebut masuk ke kegiatan.

Kapan kelompok tetap, kapan perlu rotasi?

Kelompok tetap berguna ketika aktivitas saling bersambung, misalnya peserta menyusun ide lalu menguji dan mempresentasikannya. Mengacak kelompok di tengah proses dapat menghilangkan konteks yang sudah dibangun.

Rotasi cocok untuk sesi perkenalan singkat atau saat tujuan acara memperluas jaringan antarpeserta. Namun, jangan mengganti seluruh anggota setiap beberapa menit hanya agar acara terlihat dinamis. Peserta juga membutuhkan waktu untuk memahami instruksi dan merasa nyaman bekerja bersama.

Pilihan praktisnya: pertahankan kelompok inti selama tugas utama, lalu lakukan satu sesi percakapan berpasangan dengan rekan dari kelompok lain. Jumlah perpindahan dan durasinya disesuaikan dengan rundown, bukan dijadikan aturan universal.

Berikan vendor brief yang bisa dijalankan

Saat berdiskusi dengan penyedia layanan pengembangan tim di Rindu Tenang Indonesia, jangan hanya meminta “kelompok dibuat campur”. Berikan jumlah peserta, komposisi fungsi kerja, tujuan pertemuan, serta siapa yang berwenang menyetujui perubahan daftar.

Minta vendor menjelaskan kapasitas aktivitas, pembagian tugas fasilitator, rotasi peran, dan cara menerima peserta susulan. Konfirmasi kebutuhan, format, dan ketersediaan layanan langsung; jangan menganggap semua paket menggunakan metode yang sama.

Setelah acara, tanyakan dua hal kepada peserta: apakah mereka mengenal rekan dari fungsi lain, dan percakapan apa yang ingin dilanjutkan di kantor. Jawaban ini memberi bahan tindak lanjut, bukan bukti bahwa satu gathering sudah memperbaiki kolaborasi perusahaan.

Pembagian kelompok yang baik tidak harus rumit. Ia cukup membuat orang bertemu dengan tujuan jelas, memberi ruang berkontribusi, dan tetap mudah disesuaikan ketika kondisi lapangan berubah.

Penulis di Rindu Tenang Indonesia

PT Rindu Tenang Indonesia adalah event planner di Medan yang menyediakan layanan MICE, corporate event, seminar, pelatihan, dan event planning profesional untuk instansi dan perusahaan.

Artikel Terkait

Hubungi Kami