Kepemimpinan

Program Mentoring Karyawan: Panduan HR Menyusun dari Nol

RinduTenang

Penulis

72 Tayangan
8 Menit Membaca

Di banyak perusahaan, ada satu atau dua orang yang selalu dicari saat masalah muncul. Supervisor gudang yang tahu cara menenangkan pelanggan yang marah. Admin senior yang hafal kenapa satu prosedur dibuat begitu. Pengetahuan seperti ini jarang tertulis di SOP, dan sering ikut hilang saat orangnya pindah atau pensiun.

Program mentoring karyawan adalah salah satu cara memindahkan pengetahuan itu secara sengaja. Masalahnya, banyak program mentoring berhenti di tahap pengumuman: pasangan mentor dibentuk, pertemuan pertama berjalan, lalu jadwal berikutnya terus tertunda karena semua orang sibuk.

Panduan ini membahas cara HR menyusun program mentoring yang bisa berjalan di perusahaan menengah, termasuk perusahaan di Medan dengan karyawan kantor dan pekerja shift. Contoh di artikel ini adalah ilustrasi, bukan laporan hasil klien Rindu Tenang Indonesia.

Mentoring dan coaching itu beda, walau sering dicampur

CIPD, asosiasi profesi HR di Inggris, dalam factsheet Coaching and mentoring (diperbarui Agustus 2025) menjelaskan bahwa keduanya sama-sama memakai percakapan satu lawan satu untuk mengembangkan kemampuan seseorang. Perbedaannya ada di arah dan durasinya.

Coaching berfokus pada kemampuan dan target tertentu, biasanya berlangsung dalam periode yang jelas, dan cenderung tidak mengarahkan. Coach membantu orang menemukan jawabannya sendiri. Mentoring menggambarkan hubungan ketika rekan yang lebih berpengalaman membagikan pengetahuannya kepada orang yang belum berpengalaman, dan hubungan ini cenderung lebih panjang.

CIPD juga mencatat bahwa mentoring paling berhasil ketika tidak sekadar berupa senior yang memberi tahu "begini caranya". Hubungan yang baik memberi ruang belajar bagi kedua pihak. Mentor ikut belajar tentang cara pandang karyawan yang lebih muda, alat kerja baru, atau masalah di lapangan yang tidak lagi ia lihat langsung.

Kenapa perbedaan ini penting untuk HR? Karena salah memilih pendekatan membuat program terasa tidak cocok. Kalau masalahnya adalah satu kemampuan spesifik, misalnya presentasi ke manajemen, coaching dengan target jelas mungkin lebih pas. Kalau kebutuhannya adalah memahami cara organisasi bekerja, membangun jaringan, dan belajar dari pengalaman orang lain, mentoring lebih masuk akal.

Tentukan dulu masalah apa yang mau diselesaikan

Program mentoring tanpa tujuan cepat berubah menjadi obrolan santai yang tidak dicatat. Sebelum memasangkan siapa pun, HR perlu menulis satu kalimat tujuan. Beberapa contoh yang cukup jelas:

  • Membantu karyawan baru di bagian produksi memahami cara kerja antar-shift selama enam bulan pertama.
  • Menyiapkan staf yang masuk daftar calon pengganti supervisor agar mengenal tanggung jawab di luar tugas teknisnya.
  • Memindahkan pengetahuan dari karyawan yang akan pensiun dalam dua tahun ke rekan yang akan mengambil alih perannya.
  • Membantu karyawan yang baru dipromosikan menjadi atasan pertama kali.

Tujuan yang berbeda menghasilkan desain yang berbeda. Mentoring untuk karyawan baru bisa lebih pendek dan sering. Mentoring untuk calon pemimpin biasanya lebih panjang dan topiknya lebih luas. Jika perusahaan sudah punya hasil talent review dan succession planning, daftar calon pengganti bisa menjadi titik awal memilih peserta.

Satu hal yang perlu diingat: mentoring bukan alat untuk menangani kinerja buruk. CIPD menyebut perlunya kejelasan kapan pendekatan ini tepat atau tidak tepat untuk masalah kinerja. Jika ada target kerja yang tidak tercapai dan butuh perbaikan terukur, gunakan proses manajemen kinerja yang terpisah. Mencampurnya membuat mentee takut terbuka karena merasa sedang dinilai.

Memilih mentor: senioritas saja tidak cukup

Orang yang paling lama bekerja belum tentu mentor yang baik. Kriteria yang lebih berguna antara lain:

  1. Mau meluangkan waktu secara rutin, dan atasannya mengizinkan waktu itu dipakai.
  2. Bisa mendengarkan tanpa langsung memberi jawaban. CIPD menyebut kemampuan bertanya, mendengarkan, mengklarifikasi, dan membingkai ulang masalah sebagai keterampilan yang dipakai dalam mentoring.
  3. Bisa menjaga kerahasiaan percakapan.
  4. Punya pengalaman yang relevan dengan tujuan program, bukan sekadar jabatan tinggi.
  5. Tidak menjadi atasan langsung mentee. Relasi atasan dan bawahan membuat mentee sulit membicarakan kebingungan atau kesalahan.

Poin kelima sering diabaikan. CIPD mencatat isu yang sama pada coaching oleh atasan langsung: hubungan kekuasaan membuat percakapan sulit netral. Untuk mentoring, lebih aman memasangkan mentee dengan orang dari tim lain atau satu level di atas atasannya.

Jangan juga memaksa orang menjadi mentor. Mentor yang terpaksa biasanya datang terlambat, membatalkan jadwal, dan menjawab seadanya. Lebih baik program kecil dengan lima pasangan yang sungguh-sungguh daripada dua puluh pasangan di atas kertas.

Memasangkan mentor dan mentee

Ada beberapa cara memasangkan peserta, masing-masing dengan risiko sendiri.

HR yang memasangkan langsung lebih cepat, tetapi kecocokannya bisa meleset. Mentee memilih dari daftar mentor memberi rasa memiliki, namun mentor tertentu bisa kebanjiran permintaan. Cara tengah yang sering dipakai: mentee menulis tiga pilihan beserta alasan, lalu HR menentukan pasangan akhir dengan memperhatikan beban mentor.

Apa pun caranya, sediakan jalan keluar yang tidak memalukan. Tetapkan bahwa setelah dua atau tiga pertemuan, pasangan boleh meminta penggantian tanpa harus menjelaskan alasan panjang. Ketidakcocokan gaya komunikasi itu wajar dan bukan kegagalan siapa pun.

Kesepakatan awal di pertemuan pertama

Pertemuan pertama sebaiknya menghasilkan kesepakatan tertulis singkat, cukup satu halaman. Isinya:

  • Tujuan pribadi mentee untuk periode program.
  • Frekuensi dan durasi pertemuan, misalnya satu jam setiap dua minggu.
  • Tempat dan cara bertemu, termasuk pilihan daring bila salah satu bekerja shift atau berada di lokasi lain.
  • Batas kerahasiaan: apa yang tetap di antara mereka berdua dan apa yang boleh dilaporkan ke HR.
  • Cara membatalkan atau memindahkan jadwal.
  • Tanggal evaluasi tengah program dan tanggal selesai.

Soal kerahasiaan, CIPD menyarankan organisasi menetapkan pedoman tentang kerahasiaan dan alur informasi sejak tahap implementasi agar terbangun kepercayaan antara peserta dan pihak lain seperti atasan atau HR. Contoh aturan yang jelas: HR hanya menerima catatan kehadiran dan ringkasan topik umum, bukan isi percakapan. Pengecualiannya perlu disebut, misalnya jika mentee menyampaikan dugaan pelanggaran hukum, pelecehan, atau bahaya keselamatan yang harus ditangani melalui jalur resmi perusahaan.

Menjaga program tetap jalan setelah bulan pertama

Bagian tersulit dari program mentoring adalah bulan kedua dan seterusnya. Antusiasme turun, pekerjaan menumpuk, dan pertemuan terasa bisa ditunda. Beberapa cara menjaganya:

Masukkan jadwal ke kalender kerja. Pertemuan mentoring dihitung sebagai jam kerja, bukan kegiatan sukarela di jam istirahat. Atasan kedua pihak perlu tahu dan menyetujui.

Sediakan bahan pembuka percakapan. Mentor baru sering bingung mau membahas apa. HR bisa menyiapkan daftar pertanyaan pemicu, misalnya keputusan sulit apa yang dihadapi mentee bulan ini, bagian pekerjaan mana yang masih membingungkan, atau siapa saja yang perlu ia kenal di perusahaan.

Kumpulkan para mentor sesekali. CIPD menekankan bahwa orang yang menjalankan coaching membutuhkan kesempatan terstruktur untuk merefleksikan praktiknya. Prinsip yang sama berguna untuk mentor. Pertemuan singkat antar-mentor setiap dua atau tiga bulan membantu mereka bertukar cara menghadapi situasi sulit tanpa membuka isi percakapan pribadi mentee.

Pantau kehadiran, bukan isi. Jika satu pasangan tidak bertemu selama sebulan, HR cukup bertanya apakah ada kendala jadwal. Jangan menegur seolah-olah ini pelanggaran disiplin.

Untuk karyawan baru, mentoring bisa berjalan beriringan dengan rencana onboarding 30-60-90 hari. Atasan langsung tetap memegang target kerja, sementara mentor membantu mentee memahami budaya dan cara kerja yang tidak tertulis. Percakapan rutin antara atasan dan bawahan sendiri lebih cocok diatur lewat one-on-one meeting, bukan digabung ke sesi mentoring.

Cara mengevaluasi tanpa mengarang angka keberhasilan

Mengukur hasil mentoring memang tidak semudah menghitung produksi. Namun evaluasi tetap bisa dilakukan dengan jujur. Data yang bisa dikumpulkan HR:

  • Persentase pertemuan yang benar-benar terlaksana dibanding jadwal.
  • Penilaian mentee terhadap kemajuan tujuan pribadinya, dari awal sampai akhir program.
  • Masukan mentor tentang kendala waktu dan dukungan yang dibutuhkan.
  • Untuk program suksesi: apakah calon pengganti dinilai lebih siap pada talent review berikutnya.
  • Untuk program karyawan baru: catatan apakah mereka bertahan melewati masa percobaan, dengan tetap sadar bahwa banyak faktor lain ikut memengaruhi.

Hindari klaim sebab-akibat yang terlalu cepat. Jika tingkat keluar karyawan turun setelah program dimulai, itu bisa karena mentoring, bisa juga karena kenaikan gaji atau pergantian manajer di periode yang sama. Laporan yang menyebut keterbatasan ini lebih dipercaya manajemen daripada laporan yang terdengar terlalu sempurna.

Kesalahan yang sering muncul

Beberapa pola yang membuat program mentoring berhenti di tengah jalan:

  • Program diluncurkan untuk semua karyawan sekaligus tanpa uji coba kecil.
  • Mentor tidak diberi pembekalan sama sekali, sehingga sesi berubah menjadi ceramah.
  • Mentor adalah atasan langsung, sehingga mentee hanya membicarakan hal yang aman.
  • Tidak ada tanggal selesai, sehingga program tidak pernah dievaluasi.
  • Isi percakapan bocor ke penilaian kinerja, dan kepercayaan peserta langsung hilang.

Mulailah dengan kelompok kecil selama satu periode, misalnya enam bulan. Catat apa yang berjalan dan apa yang tidak, lalu perbaiki desainnya sebelum diperluas.

Kemampuan HR yang dibutuhkan

Merancang program mentoring menuntut HR memahami analisis kebutuhan pengembangan, desain program, komunikasi dengan atasan, dan evaluasi. Kemampuan ini bersinggungan dengan analisis kebutuhan pelatihan (TNA) yang biasanya sudah menjadi tugas tim Human Capital.

Bagi praktisi HR yang ingin memperoleh pengakuan formal atas kompetensinya, lihat program sertifikasi Human Capital Supervisor dan Manager dari Rindu Tenang Indonesia, yang mengacu pada SKKNI dan diselenggarakan bersama lembaga sertifikasi profesi berlisensi BNSP. Konfirmasikan skema, unit kompetensi, persyaratan, dan jadwal sebelum mendaftar. Sertifikasi membantu membuktikan kompetensi, tetapi keberhasilan program mentoring tetap bergantung pada dukungan manajemen dan waktu yang benar-benar disediakan untuk peserta.

Informasi layanan lain, termasuk pelatihan K3 dan program pengembangan tim, tersedia di rindutenangindonesia.id.

Penulis di Rindu Tenang Indonesia

PT Rindu Tenang Indonesia adalah event planner di Medan yang menyediakan layanan MICE, corporate event, seminar, pelatihan, dan event planning profesional untuk instansi dan perusahaan.

Artikel Terkait

Hubungi Kami