Event Planner

Cara Menentukan Tema Employee Gathering agar Tidak Sekadar Slogan

RinduTenang

Penulis

43 Tayangan
7 Menit Membaca
Kenapa Harus Ada Tim Building dan Outbound Perusahaan

Rapat panitia gathering sering macet di satu titik: tema. Ada yang usul kalimat bahasa Inggris yang terdengar keren, ada yang mau tema warna untuk dresscode, ada juga yang bilang "pakai saja tema tahun lalu, ganti angkanya." Setelah dua jam, panitia memilih kalimat yang paling sedikit ditolak, lalu mencetaknya di backdrop.

Masalahnya, tema seperti itu jarang mengubah apa pun. Peserta pulang membawa foto dan kaus seragam, tapi tidak ingat kenapa acara itu dibuat. Padahal tema employee gathering bisa menjadi alat kerja: ia memutuskan aktivitas apa yang masuk, sesi apa yang dibuang, dan apa yang perlu dicek sebulan setelah acara.

Artikel ini membahas cara menentukan tema gathering perusahaan dari kebutuhan nyata, bukan dari daftar kata motivasi. Pembahasannya cocok untuk HR, panitia internal, atau atasan yang ditunjuk mengurus acara karyawan.

Tema bukan tagline, tapi keputusan

Coba bandingkan dua tema ini:

  1. "Together We Grow"
  2. "Satu shift, satu standar: memperbaiki serah terima antar regu"

Tema pertama bisa dipakai perusahaan mana saja, tahun berapa saja. Tema kedua langsung memberi tahu panitia bahwa aktivitasnya harus mencampur regu yang berbeda, ada sesi tentang komunikasi saat pergantian kerja, dan ukuran keberhasilannya bisa dilihat di lapangan.

Tema yang berguna menjawab tiga hal:

  • masalah atau momen apa yang sedang dihadapi organisasi;
  • perilaku apa yang ingin diperkuat setelah acara;
  • siapa yang paling perlu terlibat.

Kalimat akhirnya boleh tetap singkat dan enak dibaca. Yang penting, di belakang kalimat itu ada keputusan yang jelas.

Langkah 1: mulai dari kondisi kantor, bukan dari ide acara

Sebelum membuka katalog venue, kumpulkan bahan dari beberapa sumber yang biasanya sudah ada di HR:

  • hasil survei engagement atau survei kepuasan karyawan;
  • catatan exit interview atau stay interview;
  • keluhan berulang antardivisi;
  • perubahan besar tahun ini, misalnya merger, struktur baru, sistem kerja baru, atau target yang naik;
  • arahan pimpinan untuk tahun berikutnya.

Dari bahan itu, pilih satu isu utama. Satu saja. Gathering satu atau dua hari tidak mampu memperbaiki komunikasi, kepemimpinan, budaya K3, dan kolaborasi lintas generasi sekaligus. Semakin banyak isu yang dijejalkan, semakin tipis setiap sesi.

Kalau data formal belum ada, lakukan obrolan singkat dengan lima sampai sepuluh orang dari level dan divisi berbeda. Tanyakan hal sederhana: "Apa yang paling bikin kerja lambat di sini?" dan "Kapan terakhir kali tim terasa kompak?" Jawaban mereka sering lebih tajam daripada hasil rapat panitia.

Langkah 2: rumuskan perilaku yang dituju

Isu masih berupa masalah. Tema harus menunjuk arah. Ubah isu menjadi perilaku yang bisa diamati.

Contohnya:

  • isu "divisi saling lempar tanggung jawab" menjadi perilaku "tim menyelesaikan masalah lintas divisi tanpa menunggu atasan";
  • isu "karyawan baru dan senior jarang berbaur" menjadi perilaku "pengalaman senior dibagikan secara terbuka kepada karyawan baru";
  • isu "struktur baru belum dipahami" menjadi perilaku "setiap orang tahu peran dan jalur koordinasinya".

Perilaku ini nanti menjadi ukuran evaluasi. Kalau perilakunya tidak bisa diamati, tema akan sulit dinilai berhasil atau tidak.

Langkah 3: tulis kalimat tema, lalu uji

Setelah perilaku jelas, baru tulis kalimat tema. Buat tiga atau empat versi, kemudian uji masing-masing dengan pertanyaan berikut:

  • Apakah karyawan level operasional langsung paham artinya tanpa penjelasan panjang?
  • Apakah kalimat ini masih masuk akal jika nama perusahaan dihapus?
  • Bisakah panitia menurunkannya menjadi minimal tiga aktivitas?
  • Apakah kalimat ini selaras dengan nilai perusahaan yang sudah berlaku?
  • Apakah ada kata yang bisa disalahpahami atau terasa menyindir kelompok tertentu?

Pertanyaan kedua sengaja dibalik. Kalau tema tetap masuk akal untuk perusahaan lain, biasanya tema itu terlalu umum. Tambahkan konteks spesifik, misalnya nama nilai perusahaan, momen organisasi, atau unit kerja.

Soal bahasa, tidak ada aturan wajib. Bahasa Inggris boleh jika memang sudah menjadi bahasa internal perusahaan. Untuk peserta yang beragam, kalimat utama bahasa Inggris sebaiknya ditemani subjudul bahasa Indonesia agar maknanya sampai ke semua orang.

Sebagai gambaran nyata, program Employee Gathering PLN Nusantara Power UP Belawan yang tercantum di halaman agenda program Rindu Tenang Indonesia memakai tema "One Power, One Harmony" dengan subjudul "Selaras Dalam Nilai, Bersatu Dalam Kinerja". Tema itu dikaitkan dengan internalisasi nilai AKHLAK serta kolaborasi lintas jabatan dan generasi, lalu diturunkan ke aktivitas seperti trust and communication challenge, problem solving games, dan Commitment Session. Polanya bisa ditiru: kalimat singkat, subjudul bahasa Indonesia, dan aktivitas yang terhubung langsung.

Langkah 4: turunkan tema ke setiap bagian acara

Di sinilah tema diuji sungguhan. Buat tabel sederhana berisi bagian acara, lalu tulis hubungan masing-masing dengan tema:

Bagian acara Pertanyaan pengecekan
Pembukaan Apakah sambutan pimpinan menjelaskan kenapa tema ini dipilih?
Ice breaking Apakah pembagian kelompok mencampur orang yang jarang bekerja bersama?
Games inti Apakah permainan memaksa perilaku yang dituju muncul?
Refleksi Apakah fasilitator mengaitkan pengalaman permainan dengan pekerjaan sehari-hari?
Malam keakraban Apakah penghargaan atau hiburan masih nyambung dengan tema?
Penutup Apakah ada komitmen konkret yang dibawa pulang?

Kalau satu bagian tidak punya hubungan, tidak apa-apa selama bagian itu memang hanya untuk istirahat atau hiburan. Yang perlu diwaspadai adalah sesi inti yang tidak nyambung sama sekali. Misalnya, tema tentang kolaborasi lintas divisi tetapi kelompok games dibagi per divisi. Peserta akan bermain dengan rekan yang sama setiap hari, dan tujuan tema hilang.

Sesi refleksi juga sering terlewat karena jadwal molor. Padahal tanpa refleksi, games tinggal permainan. Minta fasilitator atau vendor menunjukkan rencana debrief untuk setiap aktivitas inti.

Langkah 5: atur detail pendukung secukupnya

Dresscode, warna backdrop, dan merchandise boleh mengikuti tema, tetapi jangan biarkan bagian ini menghabiskan anggaran dan energi panitia. Beberapa pertimbangan praktis:

  • pilih dresscode yang mudah didapat, karena tidak semua karyawan punya waktu atau dana untuk membeli kostum;
  • pastikan pakaian aman untuk aktivitas fisik dan cuaca, terutama kalau acara di area terbuka;
  • hindari tema kostum yang menyinggung suku, agama, atau kelompok tertentu;
  • cek ulang kebutuhan peserta dengan disabilitas atau kondisi kesehatan tertentu sebelum memilih aktivitas.

Kalau anggaran terbatas, prioritaskan fasilitator dan desain aktivitas daripada dekorasi. Peserta jarang mengingat warna balon, tapi mereka ingat saat kelompoknya berhasil menyelesaikan tantangan bersama orang yang biasanya tidak mereka ajak bicara.

Kesalahan yang sering muncul

Beberapa pola ini sering membuat tema gathering kehilangan arti:

  • Tema dipilih setelah venue dan games sudah dipesan. Akibatnya tema hanya ditempelkan ke rundown yang sudah jadi.
  • Tema diputuskan oleh satu atau dua orang tanpa melihat kondisi karyawan. Hasilnya terasa jauh dari keseharian peserta.
  • Tema berubah di tengah persiapan karena ada masukan baru. Vendor terpaksa menyesuaikan materi, dan konsistensi acara rusak.
  • Tidak ada tindak lanjut. Tema dibacakan saat pembukaan, lalu tidak pernah disebut lagi setelah acara.

Untuk mencegah poin ketiga, kunci tema paling lambat ketika brief dikirim ke vendor. Perubahan setelah itu perlu persetujuan pemilik acara dan dihitung dampaknya terhadap materi dan biaya.

Setelah acara: jangan biarkan tema berhenti di backdrop

Tema yang baik punya umur lebih panjang dari acaranya. Beberapa cara sederhana untuk menjaganya:

  • kirim ringkasan hasil refleksi dan komitmen kelompok ke peserta dalam satu minggu;
  • minta atasan langsung membahas satu komitmen dalam rapat tim berikutnya;
  • pakai kalimat tema dalam komunikasi internal selama beberapa bulan, misalnya di buletin atau pengumuman;
  • cek kembali perilaku yang dituju setelah satu sampai tiga bulan lewat obrolan singkat atau survei pendek.

Ukuran keberhasilan sebaiknya kembali ke perilaku di Langkah 2, bukan sekadar jumlah peserta atau nilai kepuasan acara. Nilai kepuasan tinggi menandakan acara menyenangkan. Belum tentu menandakan tujuan tercapai.

Checklist singkat untuk panitia

Sebelum tema diumumkan, pastikan panitia bisa menjawab ini:

  • Isu utama apa yang diangkat, dan dari data atau masukan siapa?
  • Perilaku apa yang diharapkan muncul setelah acara?
  • Apakah kalimat tema dipahami semua level karyawan?
  • Aktivitas inti mana yang langsung melatih perilaku tersebut?
  • Siapa yang bertanggung jawab atas tindak lanjut setelah acara?

Kalau lima pertanyaan ini sudah terjawab, sisanya tinggal teknis.

Butuh partner untuk merancang gathering bertema?

Merumuskan tema itu mudah diucapkan, tapi menurunkannya ke rundown, games, dan sesi refleksi butuh pengalaman fasilitasi. Tim Rindu Tenang Indonesia menangani program employee gathering, outbound team building, dan corporate event untuk perusahaan di Medan dan Sumatera Utara. Kamu bisa melihat contoh program yang sedang berjalan di agenda program RTI, lalu menghubungi tim untuk membahas kebutuhan acara perusahaanmu.

Penulis di Rindu Tenang Indonesia

PT Rindu Tenang Indonesia adalah event planner di Medan yang menyediakan layanan MICE, corporate event, seminar, pelatihan, dan event planning profesional untuk instansi dan perusahaan.

Artikel Terkait

Hubungi Kami