Bisnis

Cara Menggunakan APAR dengan Teknik PASS: Panduan Pelatihan Pemadaman Dasar untuk Karyawan di Medan

RinduTenang

Penulis

12 Tayangan
7 Menit Membaca

Di banyak pabrik dan gedung, APAR (alat pemadam api ringan) sudah terpasang, tabungnya sudah ditimbang, tag inspeksinya rapi. Tapi coba tanya lima karyawan acak: siapa yang pernah benar-benar menarik pin dan menyemprot? Biasanya jawabannya satu, atau nol.

Itu masalahnya. APAR yang lengkap tapi tak ada yang bisa memakainya hanya menjadi hiasan dinding. Artikel ini membahas cara menggunakan APAR dengan teknik PASS, keputusan kapan boleh memadamkan dan kapan harus langsung evakuasi, serta cara menyusun latihan pemadaman dasar untuk karyawan. Untuk urusan pemeriksaan fisik tabung, kami sudah menulisnya terpisah di panduan inspeksi APAR dan hydrant.

Apa itu APAR dan untuk apa dipakai?

APAR adalah alat pemadam portabel yang bisa dioperasikan satu orang untuk api yang masih kecil, di tahap awal. Tujuannya bukan memenangkan pertempuran melawan kebakaran besar. Tujuannya membeli waktu: memadamkan api sebelum membesar, atau membuka jalur keluar sambil menunggu regu pemadam.

Di Indonesia, pemasangan dan pemeliharaan APAR diatur dalam Permenaker No. PER.04/MEN/1980 tentang syarat-syarat pemasangan dan pemeliharaan alat pemadam api ringan. Aturan lain tentang unit penanggulangan kebakaran di tempat kerja ada di Kepmenaker No. KEP.186/MEN/1999. Cek teks resminya di situs Kemnaker atau JDIH sebelum menjadikannya acuan kebijakan internal.

Satu hal yang sering terlewat: kewajiban memasang APAR tidak otomatis berarti kewajiban melatih orang memakainya. Tapi dari sisi praktik K3 yang sehat, tabung tanpa orang terlatih hanya memenuhi separuh tujuan.

Kenali jenis api dulu, baru pilih APAR

Salah pilih media pemadam bisa memperparah keadaan. Kelas kebakaran yang umum dikenal di K3:

Kelas Bahan yang terbakar Contoh di tempat kerja
A Padat biasa (kayu, kertas, kain, plastik) Gudang kardus, ruang arsip, kantor
B Cairan dan gas mudah terbakar Solar, thinner, cat, oli
C Peralatan listrik bertegangan Panel listrik, mesin, kabel
D Logam tertentu yang mudah terbakar Magnesium, serbuk logam tertentu

Jenis APAR yang paling banyak dijumpai:

  • Powder (ABC): serbaguna, cocok untuk kelas A, B, dan C. Paling umum di pabrik dan kantor. Kekurangannya: serbuk menutupi dan mengotori peralatan.
  • CO2: bersih, tidak meninggalkan residu. Cocok untuk ruang server, panel listrik, dan laboratorium.
  • Foam: untuk kelas A dan B, tidak untuk listrik bertegangan.
  • Air: hanya kelas A. Jangan pernah dipakai untuk api listrik atau cairan.

Cara cepat memastikan: baca label di badan tabung. Simbol dan huruf kelasnya tercetak di sana. Latih karyawan membaca label itu sebelum kebakaran terjadi, bukan saat panik.

Teknik PASS: empat langkah yang bisa dihafal

PASS adalah singkatan yang dipakai luas di pelatihan pemadaman dasar. Mudah diingat, mudah diulang saat gugup.

P: Pull (tarik pin pengaman)

Tarik pin di bagian atas tabung. Pin biasanya dikunci segel plastik tipis; patahkan dengan tarikan. Jika pin macet atau segel hilang, itu temuan untuk inspeksi, tapi saat kejadian, tarik kuat saja.

A: Aim (arahkan ke pangkal api)

Arahkan nozzle atau selang ke pangkal api, bukan ke lidah api di atasnya. Kesalahan paling sering di pelatihan: orang menyemprot nyala yang terlihat, padahal bahan bakarnya ada di bawah. Menyemprot nyala tidak memadamkan apa-apa.

S: Squeeze (tekan tuas)

Tekan tuas pelan-pelan tapi mantap. Satu tabung powder kecil biasanya hanya menyemprot belasan detik. Waktunya sempit, jadi jangan buang di langkah awal sebelum posisi tepat.

S: Sweep (sapu kiri-kanan)

Gerakkan nozzle menyapu dari sisi ke sisi menutupi seluruh pangkal api. Maju pelan seiring api mengecil. Setelah api tampak padam, tetap awasi; api bisa menyala lagi dari bara tersisa.

Posisi tubuh juga penting. Berdiri dengan jalur keluar di belakang Anda, bukan di belakang api. Jarak aman awal sekitar beberapa langkah dari api, lalu mendekat sesuai petunjuk tabung. Jarak semprot tiap jenis berbeda, jadi cek label.

Kapan boleh memadamkan, kapan harus langsung kabur?

Ini bagian paling penting, dan paling sering diabaikan dalam latihan yang cuma mengajarkan cara menyemprot. Pegang aturan sederhana: boleh mencoba memadamkan hanya jika semua kondisi berikut terpenuhi.

  1. Api masih kecil dan belum merambat ke langit-langit atau dinding.
  2. Alarm sudah dibunyikan atau orang lain sudah diminta memanggil bantuan.
  3. Jalur keluar di belakang Anda bersih dan tidak terhalang asap.
  4. Anda tahu jenis api dan APAR di tangan sesuai.
  5. Anda merasa mampu. Ragu berarti keluar.

Langsung evakuasi jika:

  • api sudah membesar melebihi kemampuan satu tabung,
  • asap tebal mulai memenuhi ruangan,
  • ada bahan kimia, gas bertekanan, atau tabung yang terancam meledak di dekatnya,
  • Anda tidak yakin jenis api atau isi tabung.

Pesan ini perlu dikatakan jelas saat pelatihan: tidak ada karyawan yang wajib menjadi pahlawan. Keselamatan jiwa selalu di atas aset. Prosedur evakuasi lengkap dibahas di rencana tanggap darurat K3 perusahaan.

Kesalahan umum yang sering muncul saat praktik

Dari format latihan pemadaman dasar yang lazim, pola kesalahannya hampir selalu sama:

  • Menyemprot terlalu jauh atau terlalu dekat. Jauh membuat media tak sampai, dekat berisiko terpapar panas.
  • Menyemprot nyala, bukan pangkal. Sudah dibahas di atas.
  • Mengosongkan tabung sekaligus. Tuas ditekan penuh tanpa kontrol.
  • Membelakangi jalur keluar. Saat api membesar, jalan keluar jadi terblokir.
  • Tidak melapor setelah memakai APAR. Tabung yang sudah dipakai, meski hanya sedikit, harus diisi ulang. Biarkan di tempatnya dan jadi tabung kosong, itu bahaya tersembunyi.
  • Lupa memanggil bantuan dulu. Memadamkan sendirian tanpa memberi tahu siapa pun.

Catat kesalahan-kesalahan ini sebagai bahan evaluasi sesi latihan berikutnya.

Cara menyusun latihan pemadaman dasar untuk karyawan

Latihan tidak harus rumit. Format yang realistis untuk pabrik, gudang, kantor, atau rumah sakit di Medan:

1. Sesi teori singkat (30 sampai 45 menit)

Bahas segitiga api (bahan bakar, oksigen, panas), kelas kebakaran, jenis APAR, teknik PASS, dan aturan kapan boleh memadamkan. Pakai APAR asli sebagai alat peraga, bukan hanya slide. Biarkan peserta memegang, membaca label, dan menemukan pin.

2. Praktik di lapangan terbuka

Gunakan tabung latih atau APAR yang memang sudah waktunya isi ulang, serta wadah api terkontrol dengan bahan bakar yang aman. Praktik api nyata sebaiknya dipandu instruktur berpengalaman dan penyedia pelatihan yang memahami prosedur keselamatannya. Pastikan ada APAR cadangan, jarak aman penonton, dan alat pelindung diri yang sesuai.

3. Simulasi skenario

Gabungkan dengan simulasi evakuasi: alarm berbunyi, regu pemadam awal bergerak, yang lain menuju titik kumpul. Uji siapa yang mengambil APAR, siapa yang menelepon, siapa yang menghitung orang. Detailnya bisa mengacu pada simulasi evakuasi tanggap darurat.

4. Evaluasi dan catatan

Isi daftar hadir, catat siapa yang sudah praktik, dan hasil observasi instruktur. Simpan sebagai bukti pembinaan K3 internal.

Siapa yang paling perlu dilatih?

Prioritaskan:

  • anggota regu penanggulangan kebakaran atau tim tanggap darurat,
  • petugas keamanan dan resepsionis yang berada di garis depan,
  • operator area berisiko (dapur, boiler, panel listrik, gudang bahan mudah terbakar),
  • supervisor yang bertanggung jawab atas area kerja.

Untuk peran yang lebih dalam, ada jalur petugas kebakaran (fire warden) dan sertifikasi K3 kebakaran yang lebih formal.

Checklist cepat: siap atau belum

Gunakan daftar ini untuk menilai kesiapan dasar tempat kerja Anda:

  • [ ] APAR terpasang di titik mudah dilihat dan dijangkau, tidak terhalang barang
  • [ ] Jenis APAR sesuai dengan risiko area (listrik, cairan, padat)
  • [ ] Tag inspeksi dan masa isi ulang terbarui
  • [ ] Minimal beberapa karyawan per shift pernah praktik langsung
  • [ ] Prosedur "alarm dulu, baru padamkan" tertulis dan dikomunikasikan
  • [ ] Jalur evakuasi dan titik kumpul jelas
  • [ ] Ada catatan pelatihan dan jadwal penyegaran berkala

Satu kali pelatihan tidak cukup. Ingatan prosedural memudar; jadwalkan penyegaran secara berkala, misalnya setahun sekali atau saat ada karyawan baru.

Peran penyedia pelatihan yang tepat

Memadamkan api nyata dalam latihan punya risikonya sendiri. Pilih penyedia yang jelas materi, instruktur, dan prosedur keselamatannya. Di Medan dan Sumut, perusahaan bisa berkonsultasi soal kebutuhan pelatihan K3 kebakaran dan pemadaman dasar lewat layanan pelatihan K3 di Medan dari Rindu Tenang Indonesia. Sebelum memesan, tanyakan format sesi, jumlah peserta ideal, dan bagaimana praktik apinya diamankan.

Ringkasan

  • APAR efektif hanya jika dipakai orang yang tahu caranya, pada api yang masih kecil.
  • Teknik PASS: Pull, Aim, Squeeze, Sweep. Arahkan ke pangkal api.
  • Kenali kelas api dan jenis APAR; salah media bisa memperburuk keadaan.
  • Alarm dulu, jalur keluar aman, baru coba padamkan. Ragu berarti evakuasi.
  • Latih berkala dengan praktik langsung dan catat hasilnya.

Mulai dari langkah paling murah minggu ini: kumpulkan satu tim kecil di depan APAR terdekat, baca label bersama, dan peragakan keempat langkah PASS tanpa menyemprot. Dari situ Anda bisa tahu seberapa besar jarak antara tabung yang terpasang dan kesiapan orang yang menggunakannya.

Penulis di Rindu Tenang Indonesia

PT Rindu Tenang Indonesia adalah event planner di Medan yang menyediakan layanan MICE, corporate event, seminar, pelatihan, dan event planning profesional untuk instansi dan perusahaan.

Artikel Terkait

Hubungi Kami