Bisnis

Turnover Karyawan: Cara Menghitung dan Menekannya di Perusahaan Medan

RinduTenang

Penulis

47 Tayangan
6 Menit Membaca

Ada satu angka yang sering baru dilirik HR setelah situasi sudah gawat: turnover karyawan. Tiba-tiba tiga orang resign dalam sebulan, lowongan dibuka lagi, training diulang dari nol, dan tim yang tersisa mulai kelelahan. Padahal angka ini bisa dihitung sederhana sejak awal, dan dari situ kelihatan di mana bocornya.

Di artikel ini kita bahas cara menghitungnya, cara membacanya biar tidak salah kesimpulan, sampai langkah nyata menekannya. Cocok untuk HR, supervisor, atau pemilik usaha di Medan dan sekitarnya.

Apa Itu Turnover Karyawan?

Turnover adalah persentase karyawan yang keluar dari perusahaan dalam periode tertentu, biasanya setahun atau sebulan. Keluar bisa karena resign, diberhentikan, kontrak tidak diperpanjang, pensiun, atau meninggal dunia.

Dua jenis dasar yang perlu dibedakan:

  • Turnover sukarela: karyawan memilih keluar sendiri (resign). Ini yang paling sering jadi sinyal masalah.
  • Turnover tidak sukarela: perusahaan yang memutuskan (PHK, tidak lolos probation, habis kontrak).

Ada juga turnover fungsional (yang keluar memang kinerjanya rendah, justru sehat) dan disfungsional (yang keluar adalah talenta kunci, ini yang merugikan).

Rumus Menghitung Turnover

Rumus paling umum:

Turnover (%) = (Jumlah karyawan keluar dalam periode ÷ Rata-rata jumlah karyawan) × 100

Rata-rata karyawan didapat dari: (jumlah karyawan awal periode + jumlah karyawan akhir periode) ÷ 2.

Contoh Hitungan

Sebuah perusahaan distribusi di Medan punya 80 karyawan di Januari dan 76 di Desember. Selama setahun ada 15 orang keluar.

  • Rata-rata karyawan = (80 + 76) ÷ 2 = 78
  • Turnover = 15 ÷ 78 × 100 = sekitar 19,2%

Artinya hampir 1 dari 5 posisi berganti orang dalam setahun. Angka ini belum bisa dibilang bagus atau buruk sebelum kamu bedah lebih dalam, karena standar tiap industri berbeda.

Turnover Bulanan

Kalau mau pantau lebih cepat, hitung per bulan dengan rumus yang sama. Hasil bulanan dijumlahkan bisa memberi gambaran tahunan, dan lonjakan di bulan tertentu langsung kelihatan, misalnya setelah pembagian bonus atau setelah perubahan aturan kerja.

Jangan Berhenti di Satu Angka: Bedah Datanya

Angka turnover total sering menipu. Pecah jadi beberapa potongan ini:

Potongan data Pertanyaan yang dijawab
Per departemen Apakah masalahnya menumpuk di satu tim atau atasan tertentu?
Per masa kerja Banyak keluar di bawah 6 bulan (masalah rekrutmen/onboarding) atau setelah 2-3 tahun (masalah karier)?
Per alasan keluar Gaji, atasan, beban kerja, jarak, atau jenjang karier?
Per kinerja Yang keluar karyawan top performer atau yang memang bermasalah?
Sukarela vs tidak Seberapa besar yang bisa kamu cegah?

Contoh: kalau 10 dari 15 yang keluar punya masa kerja di bawah 6 bulan, jangan buru-buru naikkan gaji. Periksa dulu kualitas seleksi dan proses onboarding. Kalau sebagian besar keluar dari satu divisi, lihat gaya kepemimpinan atasan langsungnya.

Berapa Biaya Turnover Sebenarnya?

Banyak pemilik usaha hanya menghitung biaya iklan lowongan. Padahal biaya nyata lebih luas:

  • Biaya rekrutmen: iklan, waktu HR, wawancara, tes, background check.
  • Biaya onboarding dan training karyawan pengganti.
  • Produktivitas yang hilang selama posisi kosong.
  • Produktivitas yang rendah selama karyawan baru belajar.
  • Beban lembur tim yang menutup kekosongan.
  • Pengetahuan dan relasi pelanggan yang ikut pergi.

Tidak ada angka universal yang pas untuk semua perusahaan, jadi hitung versi kamu sendiri. Caranya: jumlahkan jam kerja yang dihabiskan untuk semua proses di atas untuk satu posisi, kalikan dengan biaya per jam, tambahkan biaya langsung. Hasilnya biasanya jauh lebih besar dari perkiraan awal, dan itu argumen kuat saat mengajukan anggaran retensi ke manajemen.

Penyebab Turnover yang Paling Sering Muncul

Dari pola yang umum di perusahaan menengah, penyebabnya jarang cuma soal gaji:

  1. Salah rekrut. Ekspektasi saat wawancara beda dengan kenyataan kerja. Wawancara terstruktur dan deskripsi pekerjaan yang jujur banyak membantu.
  2. Onboarding asal-asalan. Hari pertama bengong, tidak tahu harus tanya siapa. Rasa tidak diterima muncul sejak minggu pertama.
  3. Atasan langsung. Pepatah lama masih berlaku: orang masuk ke perusahaan, tapi keluar dari atasan.
  4. Tidak ada jenjang karier. Karyawan bagus tidak melihat arah berikutnya.
  5. Beban kerja dan jam kerja tidak jelas. Lembur jadi kebiasaan tanpa kejelasan kompensasi.
  6. Kompensasi tidak adil. Bukan harus tertinggi, tapi harus masuk akal dan transparan.
  7. Lingkungan kerja tidak aman atau tidak nyaman. Di sektor industri, pabrik, dan perkebunan, kondisi K3 yang buruk membuat pekerja berpikir ulang untuk bertahan.

Langkah Praktis Menekan Turnover

1. Mulai dari Exit Data, Bukan Asumsi

Kumpulkan alasan keluar secara konsisten lewat exit interview, lalu catat dalam format seragam. Kalau datanya masih berantakan, mulai sederhana saja: satu spreadsheet, kolom departemen, masa kerja, alasan, dan apakah bisa dicegah.

2. Rapikan Rekrutmen dan Onboarding

Gunakan uraian jabatan yang jelas, wawancara dengan pertanyaan yang sama untuk semua kandidat, dan rencana 30-60-90 hari untuk karyawan baru. Tentukan buddy atau mentor supaya mereka punya tempat bertanya.

3. Lakukan Stay Interview

Jangan menunggu orang pamit. Tanyakan ke karyawan kunci: apa yang membuat kamu bertahan, apa yang bikin kamu ingin pergi, dan apa yang bisa kami ubah. Dua puluh menit obrolan jujur sering lebih berguna dari survei panjang.

4. Latih Para Atasan

Supervisor yang baru dipromosikan karena jago teknis belum tentu paham cara memberi umpan balik, membagi beban, atau menangani konflik. Program pengembangan kepemimpinan dasar sering memberi dampak lebih besar daripada kenaikan gaji massal.

5. Buat Jalur Karier dan Kompetensi yang Jelas

Karyawan lebih betah ketika tahu langkah selanjutnya. Salah satu caranya lewat sertifikasi kompetensi. Untuk tim HR sendiri, ada jalur Human Capital Staff, Supervisor, sampai Manager yang bisa ditempuh lewat sertifikasi BNSP. Kalau kamu penasaran bedanya, baca juga soal sertifikasi HR BNSP dan alurnya.

6. Perbaiki Kompensasi Secara Terukur

Bandingkan dengan pasar lokal, bukan asumsi. Kalau anggaran terbatas, fokuskan ke posisi kritis dan top performer. Tunjangan non-uang seperti jadwal fleksibel, pelatihan, dan apresiasi rutin juga berpengaruh.

7. Jaga Keselamatan dan Kenyamanan Kerja

Untuk perusahaan dengan area produksi atau lapangan, rasa aman itu faktor retensi nyata. Program K3 yang jalan, APD memadai, dan pelatihan yang rutin menunjukkan perusahaan peduli. Kalau butuh pendampingan, lihat layanan pelatihan K3 Medan yang dibutuhkan sesuai jenis usahamu.

8. Bangun Kebersamaan Tim

Kegiatan seperti gathering dan team building yang dirancang dengan tujuan jelas bisa memperkuat hubungan antar-karyawan. Hasilnya bukan instan, tapi rasa memiliki terhadap tim biasanya meningkat. Perusahaan yang butuh bantuan menyusun acara bisa menengok opsi vendor outbound dan event perusahaan di Medan.

Memantau Hasilnya

Setelah program berjalan, pantau tiga hal tiap kuartal:

  • Turnover total dan sukarela.
  • Turnover karyawan masa kerja di bawah 1 tahun (indikator kualitas rekrutmen dan onboarding).
  • Turnover top performer.

Jangan berharap angka turun drastis dalam sebulan. Targetkan perbaikan bertahap dan tetapkan target yang realistis sesuai kondisi industrimu. Turnover nol persen bukan tujuan; yang dicari adalah turnover yang sehat, di mana yang pergi bukan orang-orang yang paling kamu butuhkan.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Menyalahkan karyawan generasi tertentu. Alasan keluar hampir selalu bisa ditelusuri ke kondisi kerja, bukan usia.
  • Menaikkan gaji tanpa diagnosis. Kalau akar masalahnya atasan atau beban kerja, kenaikan gaji hanya menunda.
  • Tidak mencatat alasan keluar. Tanpa data, setiap diskusi hanya jadi opini.
  • Counter-offer panik. Menahan orang yang sudah memutuskan pergi dengan tawaran mendadak sering hanya menunda keputusan, dan bisa menimbulkan rasa tidak adil di tim.

Penutup

Turnover karyawan adalah indikator, bukan vonis. Hitung dengan rumus sederhana, bedah per departemen dan masa kerja, lalu tangani akar masalahnya: rekrutmen, onboarding, atasan, karier, dan kondisi kerja. Langkah kecil yang konsisten hampir selalu lebih efektif daripada program besar yang hanya sekali jalan.

Kalau tim HR kamu ingin naik level lewat sertifikasi kompetensi, atau perusahaanmu butuh pelatihan K3 dan program pengembangan tim, kunjungi rindutenangindonesia.id untuk konsultasi layanan yang sesuai kebutuhan.

Penulis di Rindu Tenang Indonesia

PT Rindu Tenang Indonesia adalah event planner di Medan yang menyediakan layanan MICE, corporate event, seminar, pelatihan, dan event planning profesional untuk instansi dan perusahaan.

Artikel Terkait

Hubungi Kami